Rekonsiliasi Menggunakan Aplikasi SIMAN Vs Manual

Betul-betul sedang berada pada level lelah teramat karena menyelesaikan rekonsiliasi semeter 2. Apakah ini cobaan, kurang iman, atau karena belum beli gadget baru? Entahlah. Baru pertama ini terjadi dan semoga hanya SEKALI!

Jum’at (20/1), aku telah berhasil menyelesaikan rekonsiliasi menggunakan aplikasi SIMAN. Ini termasuk telat karena batas maksimal rekonsiliasi adalah tanggal 17 Januri.

Kenapa bisa terlambat?

Awalnya, rekonsiliasi ke KPKNL yang menggunakan aplikasi SIMAN sudah selesai dan sudah keluar berita acaranya.

Selanjutnya, rekonsiliasi kembali diadakan di tingkat wilayah bertempat di Hotel Semesta Semarang. Ini rekonsiliasinya face to face and laptop to laptop. Hasilnya, ada selisih saldo pada neraca Barang Milik Negara (BMN).

Setelah KPKNL mengeluarkan berita acara rekonsiliasi, di tingkat wilayah ditemukan selisih nilai neraca. Ini maksudnya apa?  Laa haula wa laa quwwata illa billaah!

Gemas!

Rekonsiliasi laptop to laptop ini betul-betul diteliti per akun. Terlihat pada menu reklasifikasi masuk dan reklasifikasi keluar, aset seharusnya senilai Rp 3.090.000, tercatat Rp 30.090.000pada aplikasi BMN. Itu kelebihan angka NOL dan fatal banget, kan? Selisih berapa, tuh? Ngga usah dihitung.

Aku salah catat! Sheep!

Kenapa selisih senilai sekian juta tidak terbaca oleh aplikasi? Kenapa nilai antara reklasifikasi keluar dan reklasifikasi masuk yang tidak sama, tidak terbaca oleh SIMAN?

Kenapa?

Karena aplikasi tersebut hanya membaca backup, saldo awal neraca, dan saldo akhir neraca. Mungkin.

Akhirnya, aku harus rekon ulang. Artinya, harus minta tolong kepada salah satu pegawai KPNKL untuk mengubah status rekonsiliasi dari BAR menjadi perbaikan. Ini berat banget. Meski sudah menjadi tugasku dan tugas mereka, tetap saja tidak nyaman.

Duuh…!

Dua kali aku meminta  untuk perbaikan. Ya, DUA KALI. Pertama selisih aset, kedua ada saldo tidak normal senilai Rp 62. Ini ngeselin banget!

Perbaikan kedua karena saldo tidak normal ini kulakukan setelah rekonsiliasi dengan KPPN setempat. Selisih itu terbaca pada aplikasi SPAN.

Ruwet…

Selisih sengit binti ruwet ini sampai saat ini belum kuselesaikan. Rasanya masih belum punya daya untuk memulainya lagi, dari awal.

Aplikasi SIMAN…

Aku masih belum paham betul jalannya rekonsiliasi menggunakan aplikasi SIMAN. Memang, lebih efisien dan efektif karena tidak perlu bolak-balik ke KPKNL hanya untuk meminta pengesahan berita acara. Hanya sekali jalan. Dan tidak perlu antre di KPKNL yang biasanya bejibun antrean untuk operator.

SINKRONISASI SIMAK

Operator hanya diminta untuk memasukan data sesuai permintaan aplikasi SIMAN, dan bisa dilakukan di mana saja asal laptop terkoneksi dengan internet. Kemudian, operator melakukan sinkronisasi antara aplikasi SIMAK dan SIMAN. Setelah sinkronisasi dan masuk antrean, seluruh data inputan diproses oleh Korwil, Eselon I dan juga KL. Jika saldo awal, saldo akhir, neraca semesteran dan tahunan tidak ada selisih, rekonsiliasi dinyatakan berhasil. Terbitlah berita acara. Rekonsiliasi menggunakan SIMAN, tidak ada penggandaan berkas. Meminimalkan tumpukan dokumen berupa kertas.

Namun, setelah masalah-masalah seperti ini muncul, rasa-rasanya ENAKAN rekonsiliasi manual.

Manual…

Operator datang ke KPKNL untuk rekon laptop to laptop. Mereka mengoreksi satu per satu aset masuk, keluar, dan transaksi lain yang terjadi selama satu semester dan atau satu tahun. Ada penambahan, pengurangan, penyusutan, dll.

Kekurangannya, kadang operator datang ke KPKNL tidak sesuai jadwal. Banyak alasannya, salah satunya harus menyiapkan dokumen yang dibutuhkan untuk rekonsiliasi. Dokumennya tidak sedikit, lho. Ini yang menyebabkan antrean per harinya makin banyak. Tapi, validasi data maksimal. Meminimalkan risiko rekon ulang.

Btw, postingan ini ruwet banget, ya. Maklumin aja, yang ngepost juga lagi ruwet otaknya. Wkwkwk

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *